Nasehat Seorang Badui kepada Imam Ahmad

Sabtu, 08 Juni 2013 | Islam
[Update: 09/06/2013] Dikisahkan bahwa pada masa kekhalifahan Al-Ma'mun (khalifah ke-7 dinasti Abbasiyah) muncullah sebuah fitnah besar yang menimpa kaum muslimin pada umumnya dan ulama' pada khususnya. Pada masa tersebut, paham Mu'tazilah (yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk) menyebar hingga berhasil mempengaruhi puncak kekuasaan, yaitu sang khalifah. Sang khalifah pun dibuat percaya bahkan sampai memaksakan paham tersebut kepada umat muslim.

Suatu waktu, seorang wakil dari khalifah Al-Ma'mun mengumpulkan Imam-imam hadits di Baghdad. Dia mengancam mereka untuk menerima paham Mu'tazilah. Kebanyakan mereka akhirnya dengan terpaksa menerima paham Mu'tazilah. Hanya ada dua orang yang tetap menolak, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh Al-Jundi. Keduanya kemudian dibawa dengan menggunakan seekor unta untuk dihadapkan kepada khalifah. Di tengah perjalanan, datanglah seorang arab badui. Orang arab badui tersebut kemudian mengucapkan salam kepada Imam Ahmad dan berkata:

Wahai engkau! Sesungguhnya engkau adalah duta bagi manusia, maka janganlah engkau menjadi sebab bencana bagi mereka. Engkau adalah pemimpin manusia di zaman ini. Jika engkau menerima seruan mereka (paham Mu'tazilah) niscaya seluruh manusia juga akan menerimanya (mengikuti engkau). Jika demikian, maka engkau akan memikul seluruh dosa manusia pada hari kiamat. Dan jika engkau mencintai Allah, maka bersabarlah di atas apa yang engkau yakini. Sesungguhnya tidak ada yang menghalangi antara dirimu dan surga kecuali dengan terbunuhnya dirimu (kematian). Dan jika engkau tidak dibunuh, kelak engkau pun akan mati. Dan jika engkau hidup (setelah hari ini) maka engkau akan hidup mulia.

Imam Ahmad berkata, "Perkataan orang tersebut lah di antara hal-hal yang menguatkan tekadku untuk tetap pada prinsipku menolak apa yang diserukan kepadaku untuk diikuti (yaitu menolak paham Mu'tazilah)".

Dari sepotong kisah di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil.

Pertama, senantiasa teguh dan bersabar dalam kebenaran, saat keadaan sesulit apapun, bahkan ketika diancam dengan siksaan dan pembunuhan, atau bahkan ketika diiming-imingi dengan kenikmatan dan kesuksesan duniawi yang berlimpah. Sungguh ini adalah sikap yang sudah mulai jarang kita temui di jaman sekarang. Semoga Allah menunjuki dan meneguhkan kita di atas kebenaran.

Kedua, bid'ah dan kesesatan bisa menyebar karena faktor kekuasaan, diformalkan sebagai sebuah hukum atau ideologi negara. Selain itu, kita juga melihat bagaimana paham bid'ah ternyata bisa merasuk dan disebarkan dalam kekhalifahan Islam, oleh seorang khalifah. Para pengusung paham Mu'tazilah dengan kata-kata indahnya dapat mempengaruhi khalifah, menampakkan kebatilan seolah-olah sebagai jalan kebenaran. Di sini lah pentingnya untuk selalu belajar dan membekali diri dengan ilmu, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bathil. Pentingnya kembali kepada inti dakwah para Nabi dan Rasul, yaitu aqidah dan tauhid yang BENAR. Ini merupakan dasar atau pondasi terpenting. Tanpanya, maka bangunan yang dibangun di atasnya akan rapuh.

Ketiga, beratnya beban seorang pemimpin atau yang dijadikan panutan. Ia bisa membawa kebaikan bagi pengikutnya, bisa juga sebaliknya membawa bencana bagi mereka. Ia bisa menuai pahala yang banyak, namun bisa juga di akhirat akan memikul dosa semua orang yang mengikutinya.

Keempat, tidak perlu malu untuk mengambil pelajaran dari orang yang lebih rendah status sosialnya atau yang terlihat 'kampungan'. Imam Ahmad pun bisa mengambil pelajaran dari seorang badui, yang umumnya dikesankan sebagai orang yang kurang adab dan sopan santun. Bahkan, dari seorang badui pun bisa keluar kalimat penuh hikmah dan kebenaran. Kata-kata orang badui tersebut bisa menjadi pelecut semangat bagi Imam Ahmad untuk teguh di atas kebenaran. Beliau mampu bertahan dari berbagai siksaan selama bertahun-tahun demi mempertahankan aqidahnya. Beliau dipenjara dan dizhalimi kurang lebih selama 14 tahun, di tiga masa khalifah, yaitu Al-Ma'mun, Al-Mu'tashim dan Al-Watsiq.

Semoga kita juga bisa memetik pelajaran..
Wa shallaLlahu wa sallama 'ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.


Catatan:
Kisah di atas saya kutip dari Al-Bida' Al-Hauliyyah (hlm. 73), Riyadh: Darul-Fadhilah, 1421H / 2000M.



Komentar