Kelembutan Hati untuk Menerima Kebenaran

Sabtu, 28 Juli 2012
Ada begitu banyak orang-orang baik yang pernah saya temui dalam hidup ini. Termasuk ketika saya diberi kesempatan untuk tinggal satu kontrakan dengan Bapak-bapak yang (menurut saya) baik dan sangat rajin. Itulah sedikit yang bisa saya rasakan setelah berinteraksi dengan mereka, walaupun mungkin hanya dalam rentang waktu yang relatif singkat.

Mereka adalah orang-orang yang rajin.. bangun pagi, bahkan sebelum shubuh. Ada yang bangun malam untuk shalat tahajud, ada juga yang sahur karena memang rutin puasa senin-kamis. Ketika adzan berkumandang, mereka bergegas untuk shalat berjamaah di masjid. Setelah shubuh, masih ada yang menyempatkan diri membaca Qur'an. Di antara mereka juga masih ada yang semangat menghafal Qur'an walaupun sudah tidak muda lagi.

Ketika matahari terbit, mereka pun telah siap untuk berangkat menuju office, ada yang naik motor, ada pula yang menggunakan sepeda atau bis. Pulang ke kontrakan saat sudah petang atau larut malam. Bahkan ada yang hampir tiap malam menginap di office. Pulang esok paginya, hanya sekedar untuk mandi atau mencuci, lalu berangkat lagi. Lebih dari itu semua, yang rajin pulang kampung menjenguk keluarga juga ada, hehe..

Yah.. mereka adalah orang-orang yang penuh semangat, tidak hanya dalam hal duniawi, tapi juga dalam ilmu dan amal akhirat.

Sebelum memasuki bulan ramadhan.. ketika mengetahui tentang keutamaan shalat tarawih berjamaah hingga selesai, mereka sampai harus menjadwal ulang kebiasaannya pulang-pergi office demi mendapatkan keutamaan tersebut. Suatu waktu, ada yang rela memilih bersepeda (karena tidak ada jadwal bis yang cocok) supaya dapat mengikuti shalat tarawih 23 rakaat sampai selesai di masjid terdekat. Walaupun bisa saja misalnya ia mengikuti kebanyakan orang lainnya yang hanya ikut tarawih 8 rakaat, kemudian ia keluar dari jamaah dan pulang menggunakan bis yang tersedia. Namun, hal itu tidak ia lakukan. Dan akhirnya ia malah dapat tumpangan mobil kembali ke kontrakan.. :)

Berkenaan dengan keutamaan tersebut, rasuluLlah shallaLlahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk. [HSR: Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad]

Mungkin ini memang hadits yang jarang diketahui oleh 'umumnya' kita. 'Umum' dalam pengertian saya, karena sejujurnya sejak kecil pun saya tidak mengetahui hadits tersebut, dan baru saya ketahui belum terlalu lama ini..

Semangat untuk bertanya, mempelajari dan mengamalkan hadits shahih yang baru pertama kali didengar itulah yang membuat saya tersenyum kagum.

Sebenarnya, di dunia ini mungkin ada banyak orang-orang berhati lembut, yang mau membuka hatinya, yang siap menerima kebenaran.. menerima apa yang datang dari Allah melalui rasul-Nya, serta meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Tinggal bagaimana kita menyentuh hati mereka, juga dengan kelembutan (atas idzin Allah). Walaupun memang tidak semua orang itu sama. Boleh dibilang semua orang memiliki mekanisme pertahanan diri. Ketika ada pendapat atau pemahaman asing yang tidak dikenal, maka orang akan cenderung untuk menolak. Ketidaktahuan seseorang pada suatu hal bisa menyebabkan kebencian. Di sinilah perlunya metode yang tepat untuk menyampaikan dan mengajak orang lain kepada kebenaran.

Tentu saja kondisi paling ideal adalah ketika kedua pihak, yang menyampaikan kebenaran dan objek yang dituju, yang berdiskusi, yang menasihati dan yang dinasihati.. semuanya dalam kondisi hati yang jernih, siap menerima kebenaran dari mana pun datangnya. Bukan dengan membabi-buta membela pendapatnya walaupun telah jelas ada kekeliruan. Inilah sikap yang tidak kita (baca: saya) miliki atau sering dilupakan.

Hatim Al-Asham pernah berkata, "Aku mempunyai tiga pekerti yang membuatku bisa mengalahkan lawan bicaraku, (1) aku gembira jika lawan bicaraku benar, (2) aku sedih jika ia salah, (3) dan aku selalu menjaga diriku agar tidak membodohinya."

Lihatlah sifat dan akhlak para salaf (pendahulu) umat ini. Begitulah sifat para pencari kebenaran yang dipersaudarakan dalam ukhuwah islamiyah. Mereka tidak merasa malu atau merasa kalah dan rendah derajatnya jika ternyata dalam berdiskusi mencari kebenaran justru lawan bicaranya lah yang benar. Mereka justru sedih jika lawan bicaranya salah, apalagi sampai menolak kebenaran. Mungkin beginilah seharusnya persaudaraan sesama muslim. Mereka ingin agar semua orang juga diberi hidayah untuk sampai kepada kebenaran. Mereka tidak merasa bangga jika berada di pihak yang benar, tapi di sisi lain justru saudara muslimnya malah menolak kebenaran.

Dalam berdiskusi, niat mereka murni untuk mencari kebenaran. Mungkin saat berdiskusi akan terasa 'ketegangan' adu argumentasi, tapi tidak ada rasa benci dan permusuhan. Mereka tetap menjaga kehormatan saudaranya. Mereka menyayangi saudaranya karena Allah, merasa senang jika diingatkan, demikian pula sebaliknya mengingatkan saudaranya jika salah. Ketika ada saudara muslimnya yang melakukan kesalahan, mereka membantu, menasihati dan tidak malah meninggalkannya.

Akhlak di atas sudah semakin jarang ditemukan. Dan saya pun tidak lepas dari kesalahan. Adakalanya diri sudah dikuasai ego, merasa benar sendiri. Adakalanya juga dalam menasihati dan menyampaikan kebenaran bersikap terlalu keras dan tidak memperhatikan keadaan. Karena itu, sebaiknya jangan terburu-buru dalam memvonis bersalah orang yang menolak nasihat, karena boleh jadi cara menyampaikannya lah yang kurang tepat. Begitupun ketika diberi nasihat, jangan terburu-buru merasa direndahkan, diserang, atau menganggap orang lain sok suci, karena boleh jadi memang kita lah yang keliru.

Dibutuhkan hati yang jernih dan lurus, baik itu untuk menerima ataupun menyampaikan kebenaran.. hati yang lembut.. hati yang seperti kaca, yang dengan kejernihannya dapat melihat kebenaran dengan jelas.. yang dengan ketebalannya sehingga segala syubhat tidak dapat menembusnya.

Sungguh saya berharap Allah mengaruniakan kepada saya kelembutan hati dan akhlak.. juga senyuman, lisan dan sikap yang bisa membawa keteduhan bagi orang-orang di sekitar saya. Saya berharap bahwa diri ini dapat menjadi 'lentera' bagi orang lain.. Sesuatu yang saya rasa kurang dan belum terpenuhi pada diri saya.

Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantara dirimu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta yang paling bagus).
[HR: Bukhari No. 3701]


--
Selesai ditulis menjelang fajar 8 Ramadhan 1433 H
Semoga Allah mengampuni penulis beserta kedua orangtuanya
Semoga Allah melembutkan hatinya, membaguskan akhlaknya dan menjadikannya lentera serta perantara bagi segala kebaikan..


Komentar

meeeee
14 September 2012 - 18:56:50
Makasih.. tulisanny bagus..

candra
16 September 2012 - 07:36:12
jadi ingat surah Ali-Imran:

"Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka...Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu...." :4


semoga Allah meluruskan niat kita, menjernihkan hati kita, dan melimpahkan hidayahnya...karena dakwah itu seni kawan....

jazakallah telah share tulisannya...

Semangatsss....:D

aL
16 September 2012 - 14:04:04
@meeeee
sama-sama.

@meeeee & candra
wa antum fa-jazakumuLlah khaira

Berikan Komentar

Nama:


E-mail:


Website:
Contoh http://www.indokreatif.net

Silahkan tulis komentar anda :


Masukkan kode berikut