Keluarga adalah bagian terkecil sekaligus pondasi suatu masyarakat. Jika kehidupan keluarga baik, maka baiklah masyarakatnya. Sebaliknya jika keluarga yang ada di dalamnya rusak, maka rusaklah masyarakat tersebut seluruhnya. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kehidupan keluarga. Islam memberikan bimbingan agar kehidupan keluarga menjadi selamat dan bahagia.

Sebuah keluarga terdiri dari suami dan istri. Keduanya merupakan partner yang harus saling bekerja sama dalam membina kehidupan keluarga. Islam telah mengatur apa saja yang menjadi hak masing-masing dari keduanya agar keluarga dapat berjalan dengan harmonis.

Hak Istri yang Menjadi Kewajiban Suaminya

Di antara hak para istri yang menjadi kewajiban para suami untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikannya adalah sebagai berikut. [1]Selengkapnya... | 0 komentar ]

Pertanyaan:

إذا فرغ المصلي في الصلاة السرية من قراءة الفاتحة وسورة والإمام لم يركع فهل يسكت؟

Jika seseorang telah selesai membaca Al-Fatihah dan surat pada shalat sirriyah (yang bacaannya pelan) namun imam belum ruku', apakah ma'mum cukup diam saja (tidak membaca apa-apa)? [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Kaidah Fiqih Seputar Diam

Jumat, 19 Desember 2014 | Islam
Ada sebuah kaidah fikih yang dirumuskan oleh ulama:

لا يُنسَبُ إلىَ سَاكِت قوْلٌ
وَلكِن السُكوْت فِى مَعْرَض الحَاجَةِ بَيَانٌ

Suatu perkataan/pendapat tidak dinisbatkan kepada orang yang diam.
Namun, sikap diam pada saat diperlukan (untuk berpendapat) maka itu dianggap sebagai sebuah penjelasan.

Kaidah di atas akan dirinci menjadi dua bagian.[1]

A. Suatu perkataan/pendapat tidak dinisbatkan kepada orang yang diam

Kalimat ini adalah perkataan dari Imam Syafi`i rahimahullah. Maknanya, kita tidak boleh mengatakan bahwa seseorang yang diam itu memiliki pendapat tertentu mengenai suatu hal. Atau dengan kata lain, tidak boleh menisbatkan suatu perkataan/pendapat kepada seseorang padahal seseorang itu tidak mengucapkannya. [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Umumnya software/aplikasi akan menggunakan data waktu yang ada di server dalam berbagai proses yang dijalankannya. Karenanya, konfigurasi waktu ini menjadi penting, termasuk dalam pemilihan timezone (zona waktu) default.

Berikut ini adalah contoh output awal ketika perintah "date" dieksekusi pada salah satu server linux (CentOS).
# date
Thu Dec 18 13:15:26 UTC 2014
Perhatikan, zona waktu yang digunakan adalah UTC. Zona waktu default ini dapat kita ubah sesuai dengan kebutuhan. [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

** Ada KUIS BERHADIAH kitab di akhir tulisan ini **

Pada asalnya, isim (khususnya isim mufrad dan jama' taksir) tanda jar-nya adalah dengan kasrah, serta berakhiran tanwin jika tidak ada 'al' ( ال ) dan bukan sebagai mudhaf.
Contoh: وَلدٌ , مِن أحَدٍ .

Namun, ada isim yang 'menyimpang' dari kaidah asal ini. Isim tersebut memiliki karakteristik:
  1. Jar dengan tanda fathah, kecuali jika ada 'al' atau sebagai mudhaf.
  2. Tidak boleh ditanwin.
Isim yang memiliki karakteristik seperti di atas dinamakan al-mamnu' minash-sharfi ( الممنوع من الصرف ) atau isim ghair al-munsharif ( الاسم غير المنصرف ) atau isim alladzi la yansharif ( الاسم الذي لا ينصرف ). [ Selengkapnya... | 8 komentar ]

Bina' dan I'rab

Kamis, 23 Oktober 2014 | Bahasa Arab
[Update: 24/10/2014]

A. Pengertian Bina' dan I'rab

Bina' adalah tetapnya keadaan akhir kata pada satu kondisi tertentu. Kelompok kata yang selalu tetap keadaan akhirnya kita sebut dengan mabni.

Contoh: ِهُوَ , نحْن , هَذِه
Kata "huwa" pada contoh di atas selalu dibaca dengan "huwa", tidak bisa dibaca dengan "huwu" atau "huwi".

Sedangkan i'rab, adalah perubahan keadaan akhir kata karena adanya suatu faktor tertentu. Pada isim, perubahan keadaan akhir katanya ditentukan oleh kedudukan kata tersebut dalam kalimat, apakah sebagai subjek, objek dst. Sedangkan pada fiil, perubahannya disebabkan adanya penambahan huruf/kata lain sebelumnya. Kelompok kata yang dapat berubah keadaan akhirnya kita sebut dengan mu'rab. [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Ketika Bumi Terasa Sempit

Sabtu, 16 Agustus 2014 | Coretan
Tulisan ini berasal dari sebuah tanya jawab yang dimuat di Youtube.
Sebenarnya saya lebih tertarik dengan jawabannya yang tidak hanya spesifik untuk kasus yang ditanyakan. Walaupun begitu, adanya sebuah jawaban tentunya karena ada pertanyaan.. Pertanyaan ini disampaikan oleh seorang pemuda kepada Syaikh Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah.

Pemuda: Wahai Fahilatusy Syaikh, saya seorang pemuda yang telah beberapa kali melakukan lamaran. Namun, saya selalu saja ditolak dengan berbagai alasan, dan kadang juga tanpa alasan. Sehingga, aku merasa dunia ini sempit. Saya mohon doa dari Anda wahai Syaikh, agar Allah memudahkan urusanku. Semoga Allah membalas kebaikan Anda. [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

DRAFT Tugas Akhir Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta:
Bagaimana Hukum Memakan Daging Sembelihan Seorang Muslim yang Diragukan Keselamatan Aqidahnya dari Noda Kesyirikan?

Untuk menjawab permasalahan ini, perlu diketahui terlebih dahulu tentang hukum asal daging yang disembelih oleh seorang muslim. Salah satu dalil yang dapat dijadikan rujukan dalam permasalahan ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut.

Ada suatu kaum yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Ada yang datang kepada kami dengan membawa daging namun kami tidak mengetahui apakah daging tersebut disembelih dengan menyebut nama Allah ataukah tidak.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebutlah nama Allah dan makanlah daging tersebut.” Aisyah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang baru masuk Islam.” [1] [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Qablu dan Ba'du

Sabtu, 24 Mei 2014 | Bahasa Arab
Pertanyaan:

يا استاذ, 'بعد', هو ظرف زمان, اليس كذالك ؟ اذن, اهو مبني ِام لا, لانا اري في القران, نقرأ 'من بعد' بكسرة 'د' و بضمة 'د'. لمذا نضمة 'د' ؟ وهو جاء بعد حرف جر 'من' ؟

Ustadz, bukankah ba'd itu zharaf zaman (keterangan waktu)? Jadi, apakah ia mabni atau tidak? Karena saya melihat di dalam Al-Qur'an kita membaca min ba'd dengan huruf "dal" dikasrah (min ba'di -ed) dan ada juga yang di-dhammah (min ba'du -ed). Kenapa kita men-dhammah huruf "dal" padahal ia terletak setelah huruf jar "min"? (Aditya)Selengkapnya... | 0 komentar ]

Selain mahram tetap, ada juga mahram yang sifatnya sementara. Artinya, wanita/pria tersebut hanya diharamkan untuk dinikahi karena alasan atau faktor tertentu yang sifatnya sementara. Jika faktor tersebut hilang, maka mereka menjadi halal untuk dinikahi. Hal ini berbeda dengan mahram tetap yang haram dinikahi untuk selamanya.

Perbedaan lain antara mahram sementara dengan mahram tetap adalah kita dibolehkan untuk berjabat tangan dengan mahram tetap, namun kita tidak dibolehkan untuk berjabat tangan (termasuk berduaan dll) dengan mahram sementara. [ Selengkapnya... | 1 komentar ]

akulah si Fakir

Jumat, 09 Mei 2014 | Coretan
Akulah si fakir yang bergantung pada Sang Pencipta
Akulah si miskin kecil yang papa dalam jalinan masa

Ku-aniaya diriku, dan nafsu pun menganiayaku
Hanya dari karunia-Nya akan datang kebaikanku

Tak kan mampu ku-hadirkan kebaikan untuk diriku
Tak pula ku mampu menolak bencana yang menerpaku

Tiada yang dapat membinaku tanpa restu Maha Kuasa
Tiada yang meringankanku dalam dosa-dosa
selain pemohon yang dipersilahkan kelak oleh-Nya
sebagaimana dikabarkan dalam ayat-ayat suci-Nya

Tanpa Pencipta tidaklah ku-punya suatu apapun
tiada pula ku-sertai-Nya dalam sebutir debu manapun
tiada bandingan bagi-Nya yang setara atau serumpun
maha kuasa tanpa perlu pada bantuan siapapun

Kebergantungan adalah sifatku yang abadi selamanya
kemandirian itu sifatnya yang selalu menyertainya
setiap insan, pun raja bumi terus bergantung kepada-Nya
Semua makhluk di hadapan-Nya hanyalah para hamba

maka siapa mendamba asa selain dari Sang Pencipta
dialah si lalim pandir serta musyrik yang durjana
Segala puja dan puji syukur hanya milik Allah semata
atas segala karunia dan sifat-sifat-Nya yang paripurna [ Selengkapnya... | 0 komentar ]


ke halaman selanjutnya ››