Al-Mamnu' minash-Sharf + Kuis Berhadiah

Kamis, 27 November 2014
** Ada KUIS BERHADIAH kitab di akhir tulisan ini **

Pada asalnya, isim (khususnya isim mufrad dan jama' taksir) tanda jar-nya adalah dengan kasrah, serta berakhiran tanwin jika tidak ada 'al' ( ال ) dan bukan sebagai mudhaf.
Contoh: وَلدٌ , مِن أحَدٍ .

Namun, ada isim yang 'menyimpang' dari kaidah asal ini. Isim tersebut memiliki karakteristik:
  1. Jar dengan tanda fathah, kecuali jika ada 'al' atau sebagai mudhaf.
  2. Tidak boleh ditanwin.
Isim yang memiliki karakteristik seperti di atas dinamakan al-mamnu' minash-sharfi ( الممنوع من الصرف ) atau isim ghair al-munsharif ( الاسم غير المنصرف ) atau isim alladzi la yansharif ( الاسم الذي لا ينصرف ). [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Bina' dan I'rab

Kamis, 23 Oktober 2014
[Update: 24/10/2014]

A. Pengertian Bina' dan I'rab

Bina' adalah tetapnya keadaan akhir kata pada satu kondisi tertentu. Kelompok kata yang selalu tetap keadaan akhirnya kita sebut dengan mabni.

Contoh: ِهُوَ , نحْن , هَذِه
Kata "huwa" pada contoh di atas selalu dibaca dengan "huwa", tidak bisa dibaca dengan "huwu" atau "huwi".

Sedangkan i'rab, adalah perubahan keadaan akhir kata karena adanya suatu faktor tertentu. Pada isim, perubahan keadaan akhir katanya ditentukan oleh kedudukan kata tersebut dalam kalimat, apakah sebagai subjek, objek dst. Sedangkan pada fiil, perubahannya disebabkan adanya penambahan huruf/kata lain sebelumnya. Kelompok kata yang dapat berubah keadaan akhirnya kita sebut dengan mu'rab. [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Ketika Bumi Terasa Sempit

Sabtu, 16 Agustus 2014
Tulisan ini berasal dari sebuah tanya jawab yang dimuat di Youtube.
Sebenarnya saya lebih tertarik dengan jawabannya yang tidak hanya spesifik untuk kasus yang ditanyakan. Walaupun begitu, adanya sebuah jawaban tentunya karena ada pertanyaan.. Pertanyaan ini disampaikan oleh seorang pemuda kepada Syaikh Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullah.

Pemuda: Wahai Fahilatusy Syaikh, saya seorang pemuda yang telah beberapa kali melakukan lamaran. Namun, saya selalu saja ditolak dengan berbagai alasan, dan kadang juga tanpa alasan. Sehingga, aku merasa dunia ini sempit. Saya mohon doa dari Anda wahai Syaikh, agar Allah memudahkan urusanku. Semoga Allah membalas kebaikan Anda. [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Hukum Memakan Daging Sembelihan Seorang Muslim yang Diragukan Aqidahnya

Sabtu, 12 Juli 2014
DRAFT Tugas Akhir Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta:
Bagaimana Hukum Memakan Daging Sembelihan Seorang Muslim yang Diragukan Keselamatan Aqidahnya dari Noda Kesyirikan?

Untuk menjawab permasalahan ini, perlu diketahui terlebih dahulu tentang hukum asal daging yang disembelih oleh seorang muslim. Salah satu dalil yang dapat dijadikan rujukan dalam permasalahan ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut.

Ada suatu kaum yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Ada yang datang kepada kami dengan membawa daging namun kami tidak mengetahui apakah daging tersebut disembelih dengan menyebut nama Allah ataukah tidak.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebutlah nama Allah dan makanlah daging tersebut.” Aisyah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang baru masuk Islam.” [1] [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Qablu dan Ba'du

Sabtu, 24 Mei 2014
Pertanyaan:

يا استاذ, 'بعد', هو ظرف زمان, اليس كذالك ؟ اذن, اهو مبني ِام لا, لانا اري في القران, نقرأ 'من بعد' بكسرة 'د' و بضمة 'د'. لمذا نضمة 'د' ؟ وهو جاء بعد حرف جر 'من' ؟

Ustadz, bukankah ba'd itu zharaf zaman (keterangan waktu)? Jadi, apakah ia mabni atau tidak? Karena saya melihat di dalam Al-Qur'an kita membaca min ba'd dengan huruf "dal" dikasrah (min ba'di -ed) dan ada juga yang di-dhammah (min ba'du -ed). Kenapa kita men-dhammah huruf "dal" padahal ia terletak setelah huruf jar "min"? (Aditya)Selengkapnya... | 0 komentar ]

Mahram 2: Yang Haram Dinikahi untuk Sementara

Ahad, 11 Mei 2014
Selain mahram tetap, ada juga mahram yang sifatnya sementara. Artinya, wanita/pria tersebut hanya diharamkan untuk dinikahi karena alasan atau faktor tertentu yang sifatnya sementara. Jika faktor tersebut hilang, maka mereka menjadi halal untuk dinikahi. Hal ini berbeda dengan mahram tetap yang haram dinikahi untuk selamanya.

Perbedaan lain antara mahram sementara dengan mahram tetap adalah kita dibolehkan untuk berjabat tangan dengan mahram tetap, namun kita tidak dibolehkan untuk berjabat tangan (termasuk berduaan dll) dengan mahram sementara. [ Selengkapnya... | 1 komentar ]

akulah si Fakir

Jumat, 09 Mei 2014
Akulah si fakir yang bergantung pada Sang Pencipta
Akulah si miskin kecil yang papa dalam jalinan masa

Ku-aniaya diriku, dan nafsu pun menganiayaku
Hanya dari karunia-Nya akan datang kebaikanku

Tak kan mampu ku-hadirkan kebaikan untuk diriku
Tak pula ku mampu menolak bencana yang menerpaku

Tiada yang dapat membinaku tanpa restu Maha Kuasa
Tiada yang meringankanku dalam dosa-dosa
selain pemohon yang dipersilahkan kelak oleh-Nya
sebagaimana dikabarkan dalam ayat-ayat suci-Nya

Tanpa Pencipta tidaklah ku-punya suatu apapun
tiada pula ku-sertai-Nya dalam sebutir debu manapun
tiada bandingan bagi-Nya yang setara atau serumpun
maha kuasa tanpa perlu pada bantuan siapapun

Kebergantungan adalah sifatku yang abadi selamanya
kemandirian itu sifatnya yang selalu menyertainya
setiap insan, pun raja bumi terus bergantung kepada-Nya
Semua makhluk di hadapan-Nya hanyalah para hamba

maka siapa mendamba asa selain dari Sang Pencipta
dialah si lalim pandir serta musyrik yang durjana
Segala puja dan puji syukur hanya milik Allah semata
atas segala karunia dan sifat-sifat-Nya yang paripurna [ Selengkapnya... | 0 komentar ]

Mahram 1: Yang Haram Dinikahi untuk Selamanya

Jumat, 09 Mei 2014
Terdapat tiga sebab yang menyebabkan seorang wanita/pria tidak boleh dinikahi untuk selamanya, yaitu karena hubungan darah, pernikahan dan persusuan. Siapakah saja mereka?

A. Faktor Hubungan Darah / Kekerabatan

Yang haram dinikahi selamanya karena hubungan darah adalah sebagai berikut.
  1. Ibu, Nenek, dan seterusnya ke atas.
  2. Anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudara perempuan kandung/sebapak/seibu.
  4. Keponakan (anak perempuan dari saudara kandung/sebapak/seibu).
  5. Bibi (saudara perempuan dari bapak/ibu) dan yang semisalnya, seperti bibi-nya bapak/ibu (saudaranya kakek/nenek kita). Sebagai catatan, dalam bahasa Arab, saudaranya bapak/ibu maupun saudaranya kakek/nenek semuanya disebut "bibi/paman".
Selengkapnya... | 0 komentar ]

Sabar dan Hikmah dalam Berdakwah

Ahad, 27 April 2014
Hikmah dalam Dakwah

Syaikh Ibnu Baz berkata, "Zaman ini adalah zaman kelembutan, kesabaran dan hikmah.. bukan zaman kekerasan. Kebanyakan manusia saat ini dalam keadaan jahil, lalai dan lebih mementingkan perkara duniawi. Maka haruslah sabar dan lemah-lembut.. hingga dakwah ini sampai kepada mereka.. hingga mereka mengetahui. Kita memohon hidayah kepada Allah untuk semuanya."

Hidayah adalah perkara yang penting dan semua orang membutuhkannya. Dalam setiap rakaat shalat pun kita selalu berdoa untuk diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Ihdinash-shiratal-mustaqim. Jangan pernah berhenti berdoa dan jangan lalai!

Semoga Allah memberikan serta menambahkan hidayah dan taufik-Nya kepada saya.. kepada orang tua, saudara dan seluruh keluarga saya.. begitu juga kepada anda dan keluarga, serta semuanya. Aamiin... [ 0 komentar ]

Kajian Tafsir As-Sa'di - Ustadz Badrusalam

Jumat, 25 April 2014
Bagi yang ingin mendengarkan kajian Tafsir As-Sa'di oleh Ustadz Badrusalam dapat mendownloadnya di https://www.dropbox.com/sh/tijw5g3dpnjnl72/XY4E-f5_PJ

Kajiannya sendiri direkam via grup WhatsApp dengan durasi sekitar 5 menit per hari. File rekamannya juga di-upload secara teratur oleh moderator grup di link di atas. Silahkan.. [ 2 komentar ]

Tuntunan Shalat Tarawih

Kamis, 27 Februari 2014
Shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan di malam-malam bulan Ramadhan. Dari sisi hukum dan tata-cara, shalat ini tidak berbeda dengan shalat malam atau shalat tahajud yang dikerjakan selain di bulan Ramadhan. Hukum shalat tarawih adalah sunnah, baik untuk pria maupun wanita. Di antara dalil pensyariatannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu anha.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti dan shalat di belakang beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak, lalu mereka ikut shalat bersama beliau. Pagi harinya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian orang-orang yang hadir di masjid makin bertambah banyak lagi pada malam ketiga. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar untuk shalat, dan mereka pun shalat bersama beliau. Kemudian pada malam keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya beliau hanya keluar untuk shalat shubuh. Setelah beliau selesai shalat fajar, beliau menghadap kepada orang banyak, kemudian membaca syahadat dan bersabda, “Amma ba’du, bukannya aku tidak tahu keberadaan kalian (semalam), akan tetapi aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu”.” [muttafaq alaih] [ Selengkapnya... | 0 komentar ]


ke halaman selanjutnya ››



Mohon bantuannya untuk menghubungi saya jika iklan yang tampil termasuk kategori tidak layak. Terima kasih..